Anda Mungkin Juga Meminati :

Related Posts with Thumbnails

Pengikut

Rabu, 29 Desember 2010

Sholawat Kepada Nabi dengan Cara yang Beradab


Pada zaman sahabat dahulu, mereka terbiasa memanggil Nabi dengan sebutan yang sederajat seperti memanggil kawan-kawan mereka. Panggilan yang paling popular adalah ‘Ya Muhammad, Ya Ibnu Abdullah, Ya Muhammad bin Abdullah, dan Ya Abal Qosim’ (Wahai bapak Al Qosim, menunjuk kepada putera Nabi yang tertua bernama Al Qosim). Kebiasaan memanggil nama sederajat seperti panggilan sesama teman, kemudian dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Panggilan yang diperbolehkan adalah menyertakan pangkat yang layak untuk Nabi seperti: ‘Ya Rasulullah, Ya Nabiyallah’. (Lihat surat An Nur ayat 63 dalam Tafsir Ibnu Katsir, cetakan Darul Hadist, Qohirah, Mesir jilid VI, halaman 100).


Dalam tafsir Ibnu Katsir tersebut, Muqotil bin Hayyan mengatakan tentang tafsir ayat ini: “Janganlah engkau menyebut nama Nabi Muhammad jika memanggil Beliau dengan ucapan: ‘Ya Muhammad’ dan janganlah kalian katakan: ‘Wahai anak Abdullah’, akan tetapi Agungkanlah Beliau dan panggillah oleh kamu:Ya Nabiyallah, Ya Rasulullah’.”


Imam Maliki, dari Zaid bin Aslam radhiyallahu ‘anhu mengatakan tentang arti surah An Nur ayat 63 di atas: “Telah memerintahkan Allah kepada sahabat Nabi dan kaum muslimin agar mengagungkan dan memuliakan Nabi.”


Berkata Ad Dahhak dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat diatas: “Dahulu para sahabat memanggil Nabi dengan panggilan ‘Ya Muhammad, Ya Abal Qosim’, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah melarang mereka dari panggilan seperti itu demi mengagungkan Nabi-Nya. Maka para sahabat memanggil Nabi dengan panggilan ‘Ya Rasulullah, Ya Nabiyallah.” Pendapat ini juga dipegang oleh Mujahid dan Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu.”


Setelah larangan Allah tersebut diturunkan, maka serentak seluruh sahabat Nabi meninggalkan cara menyebut atau memanggil nama Nabi seperti memanggil teman biasa, dan mereka mengubahnya menjadi ‘panggilan kehormatan’, sebagaimana yang telah diperintahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat An Nur ayat 63 tersebut:Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).....


Meskipun keterangan di atas sudah terang dan jelas, kenyataannya di zaman modern ini, masih ada juga sekelompok orang yang sudah dianggap golongan ‘intelektual Islam’ berani dengan lancar tanpa merasa bersalah menyebut dan memanggil nama Nabi tanpa gelar kehormatan. Entah karena terlalu sering membaca buku-buku karangan orang-orang Orientalis yang memang tidak menaruh rasa hormat kepada Rasulullah atau karena malas berpanjang-panjang menyebutkan nama Nabi bersama dengan ‘gelar kebesaran’ beliau. Apalagi jika mesti menambahkan ucapan ‘Shallallahu ‘Alaihi Wasallam’ setelah menyebut nama Nabi. Padahal, semua ini sudah diperintah Allah dan RasulNya untuk diamalkan.


Adapun jika mereka dianggap tidak tahu tentang larangan pada surat An Nur ayat 63tersebut di atas, rasanya agak sulit diterima akal, sebab mereka dikenal sebagai orang yang tergolong intelektual, bukan golongan orang-orang awam apalagi orang-orang jahil(bodoh).


Dengan melihat kenyataan ini, rasanya setiap individu muslim wajib saling ingat-mengingatkan terhadap sesama saudara kita yang mulai rajin memanggil Nabi sedemikian itu. Jika tidak demikian, maka akan semakin banyak jumlah orang yang memanggil Nabi dengan panggilan rendahan itu. Apakah pantas kita umat Islam yang mengaku pengikut Qur’an dan Sunnah kemudian memanggil Nabi kita dengan panggilan “Muhammad” saja tanpa gelar…? Sementara memanggil seorang Ketua RT saja kita menyebut Pak RT. Apalagi memanggil seorang Presiden, orang akan melekatkan bermacam-macam gelar kehormatan dan kemuliaan! Nah, bagaimana dengan memanggil seorang Rasul yang merupakan semulia-mulia makhluk ciptaan Allah....?


Rasul telah bersabda dalam hadisnya yang masyhur: “orang yang kikir adalah orang yang tidak mau bersholawat kepadaku ketika namaku disebut di dekatnya.” Sementara Allah sendiri di dalam Al Qur’an yang suci senantiasa bersholawat dengan meletakkanpangkat kebesaran Nabi ketika Allah menyebutkan nama Nabi kita MuhammadShallallahu ‘Alaihi Wasallam.


Selain kebiasaan memanggil Nabi dengan ‘panggilan rendahan’ itu, akhir-akhir ini beredar juga sebuah ajaran baru yang mengatakan bahwa menyebut atau memanggil nama Nabi dengan memakai ‘gelar’ di dalam lafazh sholawat adalah suatu perbuatanbid’ah. Dan mereka dimana-mana secara tegas mengatakan bahwa semua bid’ahadalah sesat dan akan dicampakkan ke dalam neraka. Oleh karena itu mereka mengatakan bersholawat kepada Nabi cukup dengan ucapan, “Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad” saja tanpa gelar-gelar yang menunjukkan kebesaran Nabi. Padahal kalau Sholawat ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, artinya adalah: "Ya Allah berilah rahmat kepada si Muhammad dan Keluarga si Muhammad".Kurang beradab, bukan.....? Alasan mereka bershalawat seperti itu karena tidak ada didapati sepotong hadis pun dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mengajarkan bersholawat dengan menyertakan ‘gelar’ pada nama Nabi



Benarkah demikian adanya…?


Kami mencoba meneliti beberapa potong hadis dari beberapa kitab hadis dan alhamdulillah kami menemukannya. Berikut ini kami sampaikan beberapa hadis tentang sholawat yang memakai gelar saat menyebut nama Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

  1. Dari Abu Sa’id Al Khudri ra.hu dia berkata, kami pernah bertanya kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulallah, kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, tetapi bagaimanakah cara kami bersholawat kepadamu?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Ucapkanlah oleh kamu sekalian,Allahumma sholli ‘ala Muhammadin ‘abdika wa rasulika kama shollaita ‘ala Ibrohim..( Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada Muhammad hamba-Mudan Rasul-Mu sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat-Mu kepada Ibrohim..).” (Hadis Riwayat Bukhari, Bab Sholawat Atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam no.6358).

  2. Dari Abu Hurairah ra.hu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau telah bersabda, “Barangsiapa ingin pahalanya ditimbang dengan timbangan yang lebih berat dan sempurna ketika bersholawat atas kami, dan bersholawat atas ahli bait kami, hendaklah orang itu mengucapkan sholawat seperti ini: “Allahumma sholli ‘ala Muhammadinin Nabiyyi wa azwajihi ummahatil mu’miniina wadzuriyyatihi wa ahli baitihi kama shollayta ‘ala ali Ibrohim innaka hamiidun majid(Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada Muhammad sang Nabi itu, juga kepada isteri-isterinya sebagai ibu-ibunya orang mu’min, kepada keturunan beliau dan keluarga beliau sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat-Mu kepada keluarga Ibrohim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia).” (Hadis Riwayat Abu Dawud, Bab Sholawat Atas NabiShallallahu ‘Alaihi Wasallam Dalam Sholat Setelah Tasyahhud, nomor 982).

Keterangan dua hadis di atas cukup untuk menjadi bukti bagi kita bahwa bersholawat dengan menyertakan pangkat ketika menyebut nama Nabi adalah sebuah perbuatan yang sunnah, bukan bid'ah, sebagaimana yang sering dituduhkan oleh segelintir orang di kalangan ummat Islam selama ini. Justru sholawat dengan memakai gelar telah diperintahkan oleh Nabi dalam hadis-hadis shohih, bahkan telah menjadi amalan para Sahabat, dan generasi Salafus Sholih.

Wallahu a’lam bishshowab

Sumber Data : http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/index/75/Sholawat-Kepada-Nabi-dengan-Cara-yang-Beradab

Minggu, 04 Juli 2010

Agar Doa Terkabul...




ALlah Subhânahu wata‘âlâ menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, namun di samping itu Allah Subhânahu wata‘âlâ juga menjadikan manusia sebagai makhluk yang lemah. Oleh karena itulah, maka manusia pasti membutuhkan pertolongan dan perlindungan. Semua pertolongan dan perlindungan tersebut sejatinya bermuara kepada satu Dzat yang Maha Kuasa.

Di antara cara yang bisa ditempuh manusia untuk mendapatkan pertolongan dari Allah Subhânahu wata‘âlâ ialah berdoa. Berdoa harus kita lakukan setiap saat, baik dalam keadaan senang maupun susah, karena setiap saat kita membutuhkan pertolonga-Nya.


Mengapa Harus Berdoa?


Orang yang mau berdoa akan selalu mendapatkan kebaikan dan keutamaan dari Allah Subhânahu wata‘âlâ. Tak ada kata rugi bagi mereka, selama doa yang ia panjatkan mengandung doa yang baik, bukan doa jelek, dan bukan doa yang mencelakakan orang lain. Dikatakan mendapatkan kebaikan karena selain orang yang berdoa telah mengerjakan perintah Allah Subhânahu wata‘âlâ yang termaktub dalam kitab suciNya, juga karena doa merupakan intisari ibadah. “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Al-Mu’min [40]: 60). Ayat tersebut selain mengandung perintah dianjurkannya berdoa, juga menerangkan bahwa Allah Subhânahu wata‘âlâ akan selalu mengabulkan semua permintaan hambanya.

Makhluk Allah Subhânahu wata‘âlâ yang paling jelek adalah Iblis. Ingatkah kita bagaimana permintaan Iblis yang sudah melakukan kesalahan terbesar itu masih dikabulkan? Iblis memohon kepada Allah Subhânahu wata‘âlâ agar dia dan cucunya diberi kesempatan sampai hari kiamat untuk menggoda manusia. Dalam al-Quran dijelaskan: Iblis menjawab, “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.” Allah Subhânahu wata‘âlâ berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” (QS. Al-A’raf [7]: 14-15).

Jaminan istijâbah yang Allah Subhânahu wata‘âlâ janjikan kepada orang yang berdoa bermacam-macam bentuknya. Ada yang langsung di dunia, ada pula yang akan Allah Subhânahu wata‘âlâ berikan di akhirat. Jadi intinya tak ada doa yang tidak terkabulkan. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda “Seorang hamba yang berdoa tidak akan lepas dari salah satu tiga perkara: adalakanya dosanya yang akan segera diampuni, adakalanya kebaikan yang akan segera ia dapatkan, adakalanya kebaikan yang masih disimpan.


Adab-Adab Berdoa


1. seorang hendaknya memilih waktu yang tepat untuk berdoa agar mudah terkabulkan. Imam al-Ghazali dalam Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn menguraikan tentang waktu berdoa menjadi beberapa bagian. Pertama hari Arafah. Dalam sebuah Hadis Rasullullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Doa yang paling utama adalah doa ketika hari Arafah, sedangkan paling utamanya sesuatu yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku kalimat “Lâ ilâha illaallâh wahdahû lâ syarîkalah”.

Kedua bulan Ramadhan. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dalam keadaan beriman dan mengharap pahala, maka Allah Subhânahu wata‘âlâ akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang mendapati Lailatul-Qadar dalam keadaan beriman dan mengharap pahala, maka Allah Subhânahu wata‘âlâ akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu”.

Ketiga hari Jumat. Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ berkata, “Hari Jumat sama dengan hari Arafah, di hari itulah pintu langit terbuka, di hari itu terdapat satu masa yang tidak seorangpun dari hamba Allah Subhânahu wata‘âlâ yang meminta sesuatu kecuali Allah Subhânahu wata‘âlâ akan memenuhinya. Dikatakan: Kapan waktunya? Aisyah berkata: Ketika seorang muazin melantukan azan.

Keempat sepertiga malam. diceritakan bahwa nabi Ya’kub ‘Alaihissalâm selalu berdoa di waktu sepertiga malam (waktu sahur) sementara putra-putranya meng-amini dibelakangnya. setelah itu Allah Subhânahu wata‘âlâ mengilhamkankepadanya bahwa Allah Subhânahu wata‘âlâ telah mengampuni semua dosa-dosa mereka dan mengangkat mereka menjadi nabi.


2. Memilih keadaan yang mulia. Abu Hurairah Radhiyallâhu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya pintu langit terbuka ketika pasukan fî sabîlillâh berangkat berperang, dan ketika turunya hujan, dan ketika pelaksanaan salat maktubah maka perbanykalah berdoa ketika itu.”

Al-Mujahid berkata, “Sesungguhnya salat didirikan di waktu yang terbaik, maka berdoalah kalian semua sesudah melakukan salat.

Abu Hurairah berkata, “Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Paling dekatnya seorang hamba dari Tuhanya adalah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu.

3. Berkeyakinan bahwa doanya di kabulkan, dan benar-benar menaruh harapan yang besar kepada Allah Subhânahu wata‘âlâ. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berdoalah kepada Allah Subhânahu wata‘âlâ sementara kalian mempunyai keyakinan akan terkabulnya doa tersebut, dan ketahuilah bahwa Allah Subhânahu wata‘âlâ tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lupa.

4. Mengawali doa dengan berdzikir kepada Allah Subhânahu wata‘âlâ dan pujian-pujian untuk mengagungkanNya. Salamah bin Akwa’ berkata, “Saya tidak pernah mendengar Rasulullah mengawali doa kecuali dengan bacaan “Subhâna Rabbi al-‘Aliyyil-A’lâ al-Wahhâb”.

5. Mengawali doanya dengan membaca shalawat dan menutupnya dengan bacaan shalawat pula. Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, “Barangsiapa ingin memohon sebuah hajat, maka hendaklah memulainya dengan membaca shalawat kepada Nabi lalu mengakhirinya dengan shalwat, karena Allah Subhânahu wata‘âlâ akan mengabulkan shalawatnya dan dia terlalu dermawan untuk tidak mengabulkan apa yang berada di antara keduanya.”

6. Memohon kepada Allah Subhânahu wata‘âlâ dengan hati yang tunduk, dan tidak menunjukkan sifat angkuh kita. Dalam al-Quran dijelaskan: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf [7]: 55).


Mengapa Doa Tak Terkabul?


Suatu hari ketika Ibrahim bin Adham, seorang tokoh sufi yang terkenal akan kezuhudanya, sedang berjalan di pasar Basrah, orang-orang mengerumuninya dan bertanya, “Wahai Abu Ishaq, sudah lama kami memanjatkan doa kepada Allah Subhânahu wata‘âlâ , tetapi mengapa doa kami tidak kunjung dikabulkan?, padahal dalam kitab-Nya Dia telah berfirman, “Berdoalah kalian kepadaku niscaya aku akan mengabulkan doa kalian.” Beliau menjawab, “Hal itu dikarenakan hati kalian telah mati disebabkan sepuluh perkara berikut: Pertama, kalian telah mengenal Allah Subhânahu wata‘âlâ tapi kalian tidak menunaikan hak-Nya. Kedua, kalian mengaku mencintai RasulNya tetapi kalian meninggalkan sunnahnya. Ketiga, kalian membaca al-Quran tetapi tidak mengamalkan isinya. Keempat, kalian banyak diberi karunia akan tetapi kalian tidak mensyukurinya. Kelima, kalian mengatakan bahwa setan adalah musuh, tetapi justru kalian mengikuti langkahnya. Keenam, kalian telah mengaku bahwa surga benar adanya, namun kalian tidak melakukan hal-hal yang mengantarkan kesana. Ketujuh, kalian mengaku bahwa neraka benar adanya, namun kalian tidak lari dari siksanya. Kedelapan, kalian mengaku bahwa kematian adalah benar adanya namun kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Kesembilan, kalian sibuk mengurusi kekurangan orang lain sementara kalian lupa akan kekurangan diri kalian. Kesepuluh, kalian mengubur jenazah akan tetapi kalian tidak mau mengambil pelajaran dari peristiwa kematian.”[*]


Sumber Bahan dari : http://sidogiri.net/index.php/artikel/view/164






Kamis, 27 Mei 2010

Siapa dia albani, bagi puak wahabi?

Etikel di petik dari :Forum Santri Sunniyah Salafiyyah

Di kalangan salafi (wahabi), lelaki satu ini dianggap muhaddis paling ulung di zamannya. Itu klaim mereka. Bahkan sebagian mereka tak canggung menyetarakannya dengan para imam hadis terdahulu. Fantastis. Mereka gencar mempromosikannya lewat berbagai media. Dan usaha mereka bisa dikata berhasil. Kalangan muslim banyak yang tertipu dengan hadis-hadis edaran mereka yang di akhirnya terdapat kutipan, “disahihkan oleh Albani, ”. Para salafi itu seolah memaksakan kesan bahwa dengan kalimat itu Al-Albani sudah setaraf dengan Imam Turmuzi, Imam Ibnu Majah dan lainnya.

Sebetulnya, kapasitas ilmu tukang reparasi jam ini sangat meragukan (kalau tak mau dibilang “ngawur”). Bahkan ketika ia diminta oleh seseorang untuk menyebutkan 10 hadis beserta sanadnya, ia dengan entengnya menjawab, “Aku bukan ahli hadis sanad, tapi ahli hadis kitab.” Si peminta pun tersenyum kecut, “Kalau begitu siapa saja juga bisa,” tukasnya.

Namun demikian dengan over pede-nya Albani merasa layak untuk mengkritisi dan mendhoifkan hadis-hadis dalam Bukhari Muslim yang kesahihannya telah disepakati dan diakui para ulama’ dari generasi ke generasi sejak ratusan tahun lalu. Aneh bukan?.

Siapakah Nashirudin al- Albani?

Dia lahir di kota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M dan meninggal dunia pada tanggal 21 Jumadal Akhirah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania. Pada masa hidupnya, sehari-hari dia berprofesi sebagai tukang reparasi jam. Dia memiliki hobi membaca kitab-kitab khususnya kitab-kitab hadits tetapi tidak pernah berguru kepada guru hadits yang ahli dan tidak pernah mempunyai sanad yang diakui dalam Ilmu Hadits.

Dia sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits).

Namun demikian kalangan salafi menganggap semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan Albani mereka pastikan lebih mendekati kebenaran.

Penyelewengan Albani

Berikut diantara penyimpangan-penyimpangan Albani yang dicatat para ulama’

1) Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya sebagaimana dia sebutkan dalam kitabnya berjudul Almukhtasar al Uluww hal. 7, 156, 285.

2) Mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan para nabi dan orang-orang soleh seperti dalam kitabnya “at-Tawassul” .

3) Menyerukan untuk menghancurkan Kubah hijau di atas makam Nabi SAW (Qubbah al Khadlra’) dan menyuruh memindahkan makam Nabi SAW ke luar masjid sebagaimana ditulis dalam kitabnya “Tahdzir as-Sajid” hal. 68-69,

4) Mengharamkan penggunaan tasbih dalam berdzikir sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Salsalatul Ahadits Al-Dlo’ifah” hadits no: 83.

5) Mengharamkan ucapan salam kepada Rasulullah ketika shalat dg kalimat “Melarang Assalamu ‘alayka ayyuhan-Nabiyy”. Dia berkata: Katakan “Assalamu alan Nabiyy” alasannya karena Nabi telah meninggal, sebagaimana ia sebutkan dalam kitabnya yang berjudul “Sifat shalat an-Nabi”.

6) Memaksa umat Islam di Palestina untuk menyerahkan Palestina kepada orang Yahudi sebagaimana dalam kitabnya “Fatawa al Albani”.

7) Dalam kitab yang sama dia juga mengharamkan Umat Islam mengunjungi sesamanya dan berziarah kepada orang yang telah meninggal di makamnya.

8 ) Mengharamkan bagi seorang perempuan untuk memakai kalung emas sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Adaab az-Zafaaf “,

9) Mengharamkan umat Islam melaksanakan solat tarawih dua puluh raka’at di bulan Ramadan sebagaimana ia katakan dalam kitabnya “Qiyam Ramadhan” hal.22.

10) Mengharamkan umat Islam melakukan shalat sunnah qabliyah jum’at sebagaimana disebutkan dalam kitabnya yang berjudul “al Ajwibah an-Nafiah”.

Ini adalah sebagian kecil dari sekian banyak kesesatannya, dan Alhamdulillah para Ulama dan para ahli hadits tidak tinggal diam. Mereka telah menjelaskan dan menjawab tuntas penyimpangan-penyimpangan Albani. Diantara mereka adalah:

1.Muhaddits besar India, Habibur Rahman al-’Adhzmi yang menulis “Albani Syudzudzuhu wa Akhtha-uhu” (Albani, penyimpangan dan kesalahannya) dalam 4 jilid;

2.Dahhan Abu Salman yang menulis “al-Wahmu wath-Thakhlith ‘indal-Albani fil Bai’ bit Taqshit” (Keraguan dan kekeliruan Albani dalam jual beli secara angsuran);

3.Muhaddits besar Maghribi, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Irgham al-Mubtadi` ‘al ghabi bi jawazit tawassul bin Nabi fil radd ‘ala al-Albani al-Wabi”; “al-Qawl al-Muqni` fil radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi`”; “Itqaan as-Sun`a fi Tahqiq ma’na al-bid`a”;

4.Muhaddits Maghribi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Bayan Nakth an-Nakith al-Mu’tadi”;

5.Ulama Yaman, ‘Ali bin Muhammad bin Yahya al-’Alawi yang menulis “Hidayatul-Mutakhabbitin Naqd Muhammad Nasir al-Din”;

6.Muhaddits besar Syria, Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah yang menulis “Radd ‘ala Abatil wal iftira’at Nasir al-Albani wa shahibihi sabiqan Zuhayr al-Syawish wa mu’azirihima” (Penolakan terhadap kebatilan dan pemalsuan Nasir al-Albani dan sahabatnya Zuhayr al-Syawish serta pendukung keduanya);

7.Muhaddits Syria, Syaikh Muhammad ‘Awwama yang menulis “Adab al-Ikhtilaf” dan “Atsar al-hadits asy-syarif fi ikhtilaf al-a-immat al-fuqaha”;

8.Muhaddits Mesir, Syaikh Mahmud Sa`id Mamduh yang menulis “Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani ‘ala Shahih Muslim” (Peringatan kepada Muslimin terkait serangan al-Albani ke atas Shahih Muslim) dan “at-Ta’rif bil awham man farraqa as-Sunan ila shohih wad-dho`if” (Penjelasan terhadap kekeliruan orang yang memisahkan kitab-kitab sunan kepada shohih dan dho`if);

9.Muhaddits Arab Saudi, Syaikh Ismail bin Muhammad al-Ansari yang menulis “Ta`aqqubaat ‘ala silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a lil-Albani” (Kritikan atas buku al-Albani “Silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a”); “Tashih Sholat at-Tarawih ‘Isyriina rak`ataan war radd ‘ala al-Albani fi tadh`ifih” (Kesahihan tarawih 20 rakaat dan penolakan terhadap al-Albani yang mendhaifkannya); “Naqd ta’liqat al-Albani ‘ala Syarh at-Tahawi” (Sanggahan terhadap al-Albani atas ta’liqatnya pada Syarah at-Tahawi”;

10.Ulama Syria, Syaikh Badruddin Hasan Diaab yang menulis “Anwar al-Masabih ‘ala dhzulumatil Albani fi shalatit Tarawih”.

Saran kami. Hendaknya seluruh umat Islam tidak gegabah menyikapi hadis pada buku-buku yang banyak beredar saat ini, terutama jika di buku itu terdapat pendapat yang merujuk kepada Albani dan kroni-kroninya.

http://www.forsansalaf.com/2009/albani-muhaddits-tanpa-sanad-andalan-wahabi/

Selasa, 20 April 2010

Syaikh Muda Wali Al khalidi (page1)

Maklumat diambil dari blog santri MUDI MESRA : http://santrimudimesra.blogspot.com/2009/06/syaikh-muda-wali-al-khalidi-page-1.html


Abuya Muda Waly Setelah beberapa tahun belajar di Bustanul Huda, beliau mengungkapkan niatnya untuk melanjutkan pendidikannya kepesantren di Aceh Besar kepada ayahnya, Syekh H.Muhammad Salim. Ayah beliau sangat senang mendengarkan niat beliau. Apalagi Syekh H.Muhammad Salim telah mengetahui bahwa putranya ini telah menamatkan kitab-kitab agama yang dipelajari di Pesantren Bustanul Huda.

Sebagai bekal dalam perjalanan beliau dari Labuhan Haji, ayahanda beliau memberikan sebuah kalung emas yang lain merupakan milik kakak kandung Syekh Muda Waly, yaitu Ummi Kalsum. Beliau diantar oleh ayahanda beliau dari desanya sampai ke kecamatan Manggeng. Setelah sampai ke Manggeng, ayahanda beliau berkata”Biarkan aku antarkan engkau sampai ke Blang Pidie”. Sesampainya di Blang Pidie, Syekh Muhammad Salim berkata kepada putranya, Syekh Muda Waly”biarkan aku antarkan engkau sampai ke Lama Inong”. Pada kali yang ketiga ini Syekh Muda Waly merasa keberatan, karena seolah olah beliau seperti tidak rela melepaskan anaknya merantau jauh untuk menuntut ilmu. Syekh Muda Waly berangkat ke Aceh Besar ditemani seorang temannya yang juga merupakan tamatan dari pesantren Busranul Huda, namanya Teungku Salim, beliau merupakan seorang yang cerdas dan mampu membaca kitab-kitab agama dengan cepat dan lancer



Sesampainya di Banda Aceh, beliau berniat memasuki Pesantren di Krueng Kale yang dipimpin oleh Syekh H.Hasan Krueng Kale,ayahanda dari Syekh H.Marhaban, menteri muda pertanian Indonesia para masa Sukarno. Beliau sampai di Pesantren Krueng kale pada pagi hari, pada saat syekh Hasan Krueng Kale sedang mengajar kitab-kitab agama. Dianatar kiatabynag dibacakan adalah kitab Jauhar Maknun. Syekh Muda Waly mengikuti pengajian tersebut. Sebelum Dhuhur selesailah pembacaan kitab tersebut, dengan kalimat terkhit Wa huwa hasbi wa ni`mal wakil. Setelah selesai pengajian Syekh Muda Waly merasa bahwa syarahan syarahan yangdiberikan oleh Syekh Hasan Krueng Kaletidak lebihdari pengetahuan yang beliau miliki dan apabial beliau membacakan kitab tersebut maka beliau juag akan sanggup menjelaskan seperti syarahann yang dipaparkan oleh Syekh Hasan Basri. Walaupun demikian beliau tetang menganggap Syekh Hasan KruengKale sebagai guru beliau . Bagi Syekh Muda Waly, cukuplah sebagai bukti kebesaran Syekh Hasan Krueng Kale, apabila guru beliau Syekh Mahmud Blang Pidie adalah seorang alumnus Pesantren Kuerng Kale. Syekh Muda Waly hanya satu hari di Pesantren krueng Kale. Beliau bersama Tengku Salim mencari pesantren lain untuk menambah ilmu. Akhirnya merekapun berpisah. Pada saat itu ada seorang ulama lain di Banda Aceh yaitu Syekh Hasballah Indrapuri, beliau memiliki sebuah Dayah di Indrapuri. pesantren ini lebih menonjol dalam ilmu Al-Qur an yang berkaitan dengan qiraat dan lainnya. Syekh Muda Waly merasakan bahwa pengetahuan beliau tentang ilmu Al –Quran masih kurang. inilah yang mendorong beliau untuk memasuki Pesantren Indrapuri. Pesantren Indrapuri tersebut dalam simtem belajar sudah mempergunakan bangku, satu hal yang baru untuk kala itu. Pada saat mengikuti pelajaran, kebetulan ada seorang guru yang membacakan kitab-kitan kuning, Syekh Muda Waly tunjuk tangan dan mengatakan bahwa ada kesalahan pada bacaan dan syarahannya, maka beliau meluruskan bacaan yang benar beserta syarahannya. Dari situlah Ustad dan murid-murid kelas itu mulai mengenal anak muda yang baru datang kepesantren itu dan memiliki pengetahuan yang luas. Maka ustad tersebut mengajak beliau kerumahnya dan memerintahkan kepada pengurus pesantren untuk mempersiapakan asrama temapat tinggal untuk beliau, kebetulan sekali pada saat itu perbekalan yang dibawa Syekh Muda Waly sudah habis, maka dengan adanya sambutan dari pengurus pesantren tersebut beliau tidak susah lagi memikirkan belanja.



Pimpinan Pesantren Indrapuri tersebut, Teungku Syekh Hasballah Indrapuri sepakat untuk mengangkat Syekh Muda Waly sebagai salah satu guru senior di Pesantren tersebut. Semenjak saat itu Syekh muda Waly mengajar di pesantren tersebut tanpa mengenal waktu. Pagi, siangso, sore dan malam semua waktunya dihabiskan untuk mengajar. Tinggallah sisa waktu luang hanya antara jam dua malam sampai subuh. Waktu waktu itupun tetap diminta oleh sebagian santri untuk mengajar. Selama tiga bulan beliau mengajar di Dayah tersebut. Karena padatnya jadwal beliau dan beliau kelihatan kurus, tetapi alhamdulillah walaupun demikian beliau tidak sakit.



Setelah sekian lamanya di Pesantren Indrapuri, datanglah tawaran dari salah seorang pemimpin masyarakat yaitu Teuku Hasan Glumpang payung kepada Syekh Muda Waly untuk belajar ke sebuah perguruan di Padang, Normal Islam School yang didirikan oleh seorang ulama tamatan Al-Azhar, Mesir Ustad Mahmud Yunus. Teuku Hasan tersebut setelah memperhatikan pribadi syekh Muda Waly,timbullah niat dalam hatinya bahwa pemuda ini perlu dikirim ke Al-Azhar, Mesir. Tetapi karena di Sumatra Barat sudah terkenal ada seorang Ulama yang telah menamatkan pendidikannya di Al Azhar dan Darul Ulum di Cairo, Mesir yang bernama Ustad Mamud Yunus yag telah mendirikan sebuah perguruan di Padang yang bernama Normal Islam School yang sudah terkenal kala itu melebihi perguruan perguruan sebelumnya seperti Sumatra Thawalib. Oleh sebab itu Teuku Hasan mengirimkan Syekh Muda Waly ke pesantren tersebut sebagai jenjang atau pendahuluan sebelum melanjutkanke al Azhar.



Berangkatlah Syekh Muda Waly menuju Sumatra barat dengan kapal laut.Beliau sama sekali tidak mengetahui tentang Sumatra Barat sedikit pun,dimana letak Normal Islam School dan kemana beliau harus singgah.tiba tiba saja ada seorang penumpang yang telah lama memperhatikan tingkah laku dan gerak gerik Syekh Muda Waly selama di kapal ,bersedia membantu Syekh Muda Waly untuk bisa sampai ketempat yang beliau tuju.



Setelah sampai di Normal Islambeliau segera mendaftarkandiri di Sekolah tersebut. Lebih kurang tiga bulan beliau di Normal Islam dan akhirnya beliau mengundurkan diri dan keluar dengan hormat dari Lembaga pendidikan tersebut.Hal ini beliau lakukan dengan beberapa alasan :


1.Cita-cita melanjutkan pendidikan kemana saja termasuk ke Normal Islam dengan

tujuan memperdalm ilmu agama,karena cita-cita beliau mudah-mudahan beliau menjadi seorang ulama sperti ulama ulam besar lainnya.Tetapi rupanya ilmu agama yangdiajarkan di normal Islam amat sedikit.Sehingga seolah olah para pelajar disitu sudah dicukupkan ilmu agamanya dengan ilmu yang didapati sebelum memasuki pesantren tersebut.
2.Di normal Islam pelajaran umum lebih banyak diajrakan ketimbang pelajaran agama.Disana diajarkan ilmu matematika,kimia,biologi,ekonomi,ilmu falak,sejarah Indonesia,bahasa inggris.bahasa belanda,ilmu khat dan pelajaran olahraga.
3. Di normal Islam beliau harus menyesuaikan diri dengan peraturan peraturan di lembaga tersebut,Di situ para pelajar diwajibkan memakai celana ,memakai dasi,ikut olah raga disamping juga mengikuti pelajaran umum diatas.Menurut hemat Syekh Muda Waly,kalau begini,lebih baik beliau pulang ke Aceh mengamalkan dan mengembangkan ilmu yang telah beliau miliki daripada menghabiskan waktu dan usia di Sumatra Barat.


Setelah beliau keluar dari Normal Islam,beliau bertemu dengan salah seorang pelajar yang juga berasal dari Aceh dan sudah lama di Padang yaitu Ismail Ya`qub,penerjemah Ihya `ulumuddin .Bapak Ismail Ya`qub menyampaikan kepada Syekh Muda Waly supaya jangan cepat cepat pulang ke Aceh,tetapi menetaplah dulu di Padang,barangkali ada manfaatnya.
Pada suatu sore beliau mampir untuk berjamaah maghrib di sebuah surau yaitu di Surau Kampung Jao.Setelah shalat maghrib kebiasaan disurau itu diadakan pengajian dan seorang ustaz mengajar dengan membaca kitab berhadapan dengan para jamaah.rupanya apa yang di baca oleh ustaz itu beserta syarahan yang di sampaikan menurut Syekh Muda Waly tidak tepat,maka beliau membetulkan.sehingga ustaz itu dapat menerima.sedangkan jamaah para hadirin bertanya-tanya tentang anak muda yang berani bertanya dan membetulkan pendapat ustaz itu.


Akhirnya para jamaah beserta ustaz tersebut meminta beliau supaya datang kesurau itu untuk menjadi imam solat dan mengajarkan ilmu agama . Begitulah dari hari ke hari,ayahku mulai dikenal dari satu surau ke surau yang lain , dan dari satu mesjid ke mesjid yang lain. Apalagi beliau bukan orang padang, tetapi dari daerah Aceh dan nama Aceh sangat harum dalam pandangan ummat islam Sumatra barat. Dan yang lebih mengagumkan lagi ialah kemahiran beliau dalam ilmi fiqh, tasawwuf, nahu dan lain. Barulah sejak itu beliau dipangil oleh masyarakat dengan Angku Mudo atau Angku Aceh.


Pada masa itu pula sedang hangat-hangatnya di Sumatra Barat tentang masalah- masalah keagamaan yang sifatnya adalah sunat-sunat’ seperti masalah usalli,masalah hisab dalam memulai puasa Ramadan,hari raya ‘Id al –fitr dan lain lain.Terjadilah perdebatan antara kelompok kaum tua dengan kelompok kaum muda.


Syekh Muda Waly berasal dari Aceh dalam kelahiran,dan pendidikannyai,tentu saja berpendirian dalam semua masalah masalah itu seperti pendirian para ulama Aceh sejak zaman dahulu,karena semua ulama Aceh khususnya dalam bidang syari’at dan fiqh islam tidak ada bertentangan antara yang satu dengan yang lain.Apalagi ulama ulama Aceh zaman dahulu seperti syeikh Nuruddin al-Raniri,Syeikh Abdul Rauf al-fansuri al-singkili [Syiahkuala],Ssyeikh Hamzah Fansuri,Syekh Syamsuddin Sumatrani dan lain lain.Semuanya bermazhab Syafi`I dan antara mereka tidak terjadi pertentangaan dalam syari``at dan fiqh Islam kecuali hamya perbedaan pendapat dalam masalah tauhid yang pelikdan sangat mendalam ,yaitu masalah Wahdah al-Wujud,juga masalah hukum Islam yang berkaitan dengan politik,seperti masalah wanita menjadi raja.
Karena itulah maka semua masalah masalah kecil di atas sangat dikuasai oleh Syekh Muda Waly dalil dalil hukum dan alasan alasannya ,al Qur’an dan hadist ,dan juga dari kitab kitab kuning. Karena itulah ,maka terkenallah beliau di kota padang dan mulai dikenal pula oleh seorang ulama besar di kota padang itu,yaitu syeikh Haji Khatib Ali,ayahandanya Prof.Drs.H. Amura.Syeikh Khatib Ali ulama besar ahli al-sunnah wa al-jama’ah dipadang .Murid daripada Syeikh Ahmad Khatib di Mekkah Al- Mukarramah.beliu mendapat ijazah ilmu agama dari Syeikh Ahmad Khatib dan mendapat pula ijazah Tariqat Naqsyabandiyah daripada Syeikh Ustman Fauzi Jabal Qubais Mekkah al-mukarramah.Yang menjadikan beliu terkenal di padang karena kegigihannya mempertankan `aqidah ahli al-sunnah wa al-jama`ah dan mazhab syafi`i, di samping pula beliu adalah menantu seorang ulama besar dalam ilmu syari`at dan tariqat,yaitu Syeikh sa`ad Mungka. Syeikh sa`ad Mungka .Syekh Khatib Ali sangat tertarik kepada Syekh muda Waly sehingga beliau menjodohkan Syekh Muda Waly dengan seorang family beliau yaitu Hajjah Rasimah,yang akhirnya melahirkan Syekh prof.Muhibbuddin Waly.Sejak itulah kemasyhuran Syekh Muda Wali semakin meningkat dan terus ditarik oleh ulama-ulama besar lainnya dalam kelompok para ulama kaum tua,tetapi beliau secara tidak langsung juga mengambil hal-hal hal yang baik dari ulama-ulama lainnya, seperti orahg tuanya Buya Hamka,Haji rasul.


Kemudian Syekh Muda waly juga berkenalan dengan Syekh Muhammad Jamil Jaho. Maka beliau mengikuti pengajian yang diberikan oleh Ulama besar Padang tersebut. Hubungan beliau dengan Syekh Muda Waliy pada mulanya hanya sekadar guru dan murid. Syekh Jamil Jaho adalah seorang Ulama Minangkabau,murid Syekh Ahmad Khatib. Beliau diakui kealimannya oleh ulama lainnya terutama dalam ilmu bahasa arab. Di Pesantren jaho itulah Syekh Muhammad Jamil Jaho mengumpulkan murid muridnya yang pintar untuk mencoba pengetahuan Syekh Muda Waly pada lahiriyahnya mereka seperti mengaji pada Syekh Muda Waly tapi pada hakikatnya adalah untuk menguji dan mencoba Syekh Muda Waly dengan berbagai ilmu alat. Rupanya semua debatan tersebut dapat dijawab oleh Syekh Muda Waly. Dari situlah, Syekh Muda Waly semakin terkenal dikalangan para ulama Minangkabau. Akhirnya Syekh Muda Waly dinikahkan dengan putri Syekh Muhammada Jamil Jaho yaitu dengan seorang putrinya yang juga alim, Hajjah Rabi`ah yang akhirnya melahirkan Syekh H.Mawardi Waly. Akhirnya syekh Muda Waly menempati rumah pemberian paman istri beliau yang pertama, Hajjah Rasimah. Rumah itu terdiri dari dari dua tingkat. Pada bagian bawahnya di gunakan sebagai madrasah tempat majlis ta`lim


Apabila datang hari hari besar islam ummat Islam di Kota Padang beramai ramai datang kerumah tersebut. Para Ulama Kota Padang khususnya sering berdatangan ke rumah tersebut karena bila tak ada undangan Syekh Muda Waly sibuk mengajar dan berdiskusi dengan para ulama lainnya Apalagi dalam rumah itu juga tinggal seorang ulama besar lain, Syekh Hasan Basri, menantu dari Syekh Khatib `Ali Padang dan suami dari Hajjah Aminah, ibunda dari istri beliau Hajjah Rasimah. Pada tahun 1939 Syekh Muda Waly menunaikan ibadah haji ketanah suci bersama salah seorang istri beliau Hajjah rabi`ah. Selama di Makkah beliau tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan .Selain menunaikan ibadah haji, beliau juga memanfaatkan waktu untuk menimba ilmu pengetahuan dari ulama ulama yang mengajar di Masjidil Haram antara lain Syekh Ali Al Maliki, pengarang Hasyiah al - Asybah wan nadhaair bahkan beliau mendapat ijazah kitab kitab hadis dari Syekh Ali Al Maliki .



Selama di Makkah Syekh Muda Waly seangkatan dengan Syekh Yasin Al fadani,seorang ulaam besar keturunan Padang yang memimpin Lembaga Pendidikan Darul Ulum di Makkah al mukarramah

.

Pada waktu Syekh Muda Waly berada di Madinah pada setiap saat shalat beliau selalu menziarahi kuburan yang mulia Rasulullah Saw.Pada waktu itu siapa saja yang menziarahi kuburan Nabi secara dekat, akan dipukul oleh polisi dengan tongkatnya.tetapi pada saat Syekh Muda Waly sedang bermunujat dekat makam Rasullualah,beliau didekati oleh polisi,ingin memukul beliau,maka Syekh Muda Waly langsung berbicara dengan polisi tersebut dengan bahasa arab yang fasih sehingga polisi tersebut tertarik dengan beliau dan membiarkan beliau duduk lama didekat maqam Nabi SAW.Di Madinah Syekh Muda Waly berdiskusi dengan para ulama ulama dari negeri lain terutama dari Mesir.Beliau tertarik dengan dengan perkembangan ilmu pengetahuan di negeri Mesir,sehingga beliau sudah bertekat menuju ke Mesir,tetapi beliau lupa bahwa pada saat itu beliau membawa istri beliau Hajjah Rabi`ah.Istri beliau keberatan ditinggalkan untuk pulang ke Indonesia.akhirnya beliau urung berangkat ke Mesir.
Selama beliau di Makkah ataupun Madinah beliau tak sempat mengambil ijazah dalam Tahariqat apapun.Hal ini kemungkinan besar karena dua hal :



1.Karena beliau berada di tanah suci lebih kurang hanya tiga bulan ,waktu yang sangat singkat bagi beliau yang mempunyai cita-cita besar untuk menggali ilmu dari berbagai ulama.Sehingga habislah waktu beliau hanya untuk menemui dan berdiskusi dengan para ulama lainnya.



2.pada umumnya para pelajar yang datang ke Tanah suci untuk mengamalkan thariqat,mengambil ijazah, dan berkhalwat harus berada di tanah suci pada bulan Ramadan.Karena pada bualn Ramadan halaqah pengajian sepi bahkan libur.Semua waktu dalam bulan Ramadhan dutujukan untuk beribadah.Sedangkan Syekh Muda Waly berada di Tanah suci bukan dalam bulan Ramadhan .



Maklumat diambil dari blog santri MUDI MESRA : http://santrimudimesra.blogspot.com/2009/06/syaikh-muda-wali-al-khalidi-page-1.html

Selasa, 02 Maret 2010

Penjelasan terdapatnya dua Qaul (pendapat) Imam Syafie r.a.

Oleh : al-fahdil Tuan Guru Abdul Rauf (pondok Tampin


Penjelasan terdapatnya dua Qaul (pendapat) Imam Syafie r.a.

Berkenaan kemusykilan terdapatnya dua qaul (pendapat) daripada Imam Syafie, sehingga ada dikalangan mereka yang membantah mengatakan palsu dakwaan para pengamal kenduri arwah mengatakan terdapatnya dua qaul atau pendapat Imam Syafie dalam masalah sampai pahala kepada mayyit?. Penjelasan terdapatnya dua Qaul atau dua pendapat yang diriwayatkan daripada Imam As Syafie rahimullahu ta’ala boleh kita telili didalam beberapa buah kitab Mazhab Syafie yang muktabar. Pendapat Imam As Shafie Rahimahullah telah dicatitkan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya, SYARAH MUSLIM, yang telah menjadi masalah kepada mereka yang kontra adalah seperti berikut:



“Adapun bacaan Quran , maka [Qaul Masyhur] dalam Mazhab Syafie, adalah tidak sampai………

Dalil Imam Syafie dan mereka yang sependapat dengannya ialah firman Allah (yang maksudnya),

" Dan seseorang tidak akan memperoleh melainkan pahala usahanya sendiri",

dan sabda Nabi SAW (yang maksudnya),

Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amal usahanya kecuali tiga hal, iaitu sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak soleh(laki-laki/perempuan) yang berdoa untuknya (si mati)."-- (An Nawawi, SYARAH MUSLIM, juz 1, hal. 90)”.


Jawabnya: Masalahnya, adakah kita telah memahami benar-benar peristilahan sesuatu qaum?, sehingga
dituduh qaum itu tak mengikut Imamnya sendiri?. Pokoknya adakah kita telah benar-benar memahami masyrabnya, mustalahahnya, thuruq khilafnya , selok-belok mazhab dan sebagai-bagainya berkenaan

sesuatu mazhab khasnya “MazhabSyafie”?.


Berkenaan 'qaul masyhur',tidaklah jadi masaalah dalam memahami persoalan ini, maksud 'masyhur' itu sendiri sebagaimana yang diistilahkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Minhaj beliau, dan telah disyarahkan(dihuraikan) oleh Syekh Ibnu Hajar dalam Tuhfah : Muka surat 84, juzuk 1, cetakan Daarul Kutub al Ilmiyah, tahun 1996 m.

( فَا المَشْهُور ) هُوَ الذَّى أَعْبَرَ بِهِ لاِءشْعَارِهِ بِخَفَاءِ مُقَابِلِهِ وَيَقَعُ لِلْمُؤَلِّفِ تَنَاقُضٌ بَيْنَ كُتُبِهِ فِى التَّرْجِيْحِ يَنْشَأُ عَنْ تَغَيُّرِ اِجْتِهَادِهِ فَالْيَعْتَنَّ بِتَحْرِيْرِهِ ذَلِكِ مَنْ يُرِيْدُ تَحْقِيْقَ الأَشْيَأَ عَلَى وَجْهِهَا.

Begini maksudnya:


Maka 'qaul masyhur', ialah yang mengibaratkan oleh pengarang (Nawawi) dengan nya, bagi tujuan memberitahu bahawa ada kesamaran muqobilnya (pertentangan), sesuatu pendapat (fatwa)tersebut. Dan bagi pengarang (Nawawi) ,terjadi pentarjihan yang berlawanan diantara kitab-kitab beliau, yang terbit (disebabkan) berubah ijtihad (samada Imam Syafie sendiri atau mujtahid mazhab atau mujtahid tarjih). Maka hendaklah mengamat-amati dengan menghuraikan perkara tersebut atas mereka yang mahu ( yakni mampu) mentahqiqkan (memeriksa dalil-dalilnya dengan ) mengikut jalan –jalan (kaedah) nya”.


Maksudnya : Qaul masyhur tersebut, boleh dibuat penelitian lagi oleh mereka yang mampu terhadap fatwa-fatwa mazhab yang kedudukkannya di tahap masyhur.Jelasnya , Qaul Masyhur adalah satu istilah yang dipopularkan oleh Imam Nawawi dan para Mujtahid Tarjih dikalangan Ulamak Mazhab ini. Bukan istilah Imam Syafie sendiri. Bukan juga seperti sangkaan mereka yang membantah dengan mengatakan “Qaul Masyhur” bermaksud qaul atau pendapat yang terkenal dari riwayat Imam Syafie. Menurut Imam Nawawi memang terdapat 2 Qaul disisi Imam Syafie dalam masalah ini jika dipandang disudut istilah “masyhur” yang dicatitkan disemua kitab –kitab yang menaqalkan masalah sampai pahala.



Cuba kita perhatikan apakah pengertian sebenar “Qaul Masyhur” disini?. Ini sebenarnya telah dijelaskan lagi dalam kitab Majmu' Kutubis Sab a'h al Mufidah, m.s. 34:

و قد تتبع من جاء بعدهما و بينوا المعتمد من غيره بحسب ما ظهر لهم.

“Waqad tatabba'a man jaa aa ba'dahuma kalamma huma wabayyanu al mu'tamad min ghairih bihasabi maa zho ha ra lahum”.



Ertinya: Dan sesungguhnya telah menyelidiki dan membahas fatwa-fatwa kedua Syekhul Mazhab(Rafaie dan Nawawi) oleh mereka (ulamak) yang kemudian , dan mereka telah menerangkan yang mana muktamad (yg dipegang/ difatwakan) dengan yang tidak muktamad, dengan perkiraan (penilaian ) mereka.

Tamat



Maksudnya: Masih boleh berlaku penilaian semula terhadap pendapat atau pentarjihan yang telah dilakukan oleh kedua mahaguru mazhab ini ( Rafaie dan Nawawi) amnya dan khasnya terhadap qaul-Qaul Masyhur yang diriwayatkan daripada Imam Syafie r.a.


Ringkasnya, dalam masaalah ini, kita dapati sekalipun dikatakan Imam Syafie sendiri pada satu pendapat beliau meyatakan
tidak sampai sedekah bacaan alquran kepada si mati, ianya tidak lah qat'iy begitu saja untuk diwartakan sebagai fatwa mazhab Syafie. Sebab ianya adalah qaul yang “Masyhur” sebagaimana yang kita telah nyatakan. Ianya (method) ini, telah difahami dan diamalkan sebaik-baiknya oleh murid- murid dan pengikut-pengikut beliau berdasarkan wasiat beliau yg masyhur.Tak perlulah disebut di sini rasanya. Semua orang dah maklum apa wasiatnya. Lagi pula, kita dah nyatakan, fatwa-fatwa dalam mazhab adalah tersusun rapi , urutan tertib pemilihan sesuatu fatwa untuk diterima pakai dalam bidang mazhab ini diketahui oleh orang yang mempelajarinya mengkajinya secara mengakar umbikan kitab-kitab Mazhab. Contohnya, pemilihan kitab-kitab Nawawi . Mana yang didahulukan diantara kitab-kitab beliau. Istilah Sahih, Ashah , Masyhur , Qodim , jadid dan seterusnya adalah Istilah di Sisi Imam Nawawi dan para pentarjih fatwa dalam Mazhab ini. Kalau dikatakan mengapa pula begitu?. Sebabnya, telah diselidiki penyusunan kitab-kitab beliau dari berbagai aspek berdasarkan keteguhan dalil, tahqiq perbahasan, kesemua kitab dan fatwa tersebut, lalu hasillah tertib sebagaimana tersebut. Lantaran itu kita dapati pengikut mazhab Syafie dikalangan ulamaknya, mentarjihkan dan memu'tamadkan sampai pahala bacaan alQuran kepada mayyit. Jelasnya , mereka mentarjihkan dan memuktamadkan Qaul Imam Syafie Yang kedua. Oleh yang demikian tidak benarlah jika dikatakan hanya semata-mata Ijtihad pengikut Mazhab Syafie sahaja. Diantara mereka :Kalau mereka yang terdahulu dari Imam Nawawi: Imam Athobary , alMawardy, sebagai contohnya.Yang kemudian pula Imam AsSubky, Imam AsSayuthy dan lain-lain tak lupa juga Ibnu Abbdissalam dalam satu riwayat beliau merubah pendapatnya setelah wafat dengan dimimpikan orang berjumpa beliau dan beliau mengaku sampai pahala bacaan kepada arwah. Sekali lagi ditegaskan , bahawa
Masyhur adalah bermaksud pendapat yang kurang jelas Muqobilnya ( lawan atau sebaliknya) , bukan bermakna qaul yang terkenal diriwayatkan dari Imam Syafie . Maka bila disebut saja Qaul Masyhur , bererti lawan atau sebalik dari pendapat yang Masyhur tersebut adalah suatu yang tidak jelas kedudukannya. Maka di Tahkikkan oleh para ulamak kemudian selepas Imam Syafie. Ini membawa maksud memang ada qaul yang sebalik masyhur atau Muqobil Masyhur . Qaul Masyhur atau Muqobilnya memang kedua-duanya diriwayatkan dari Imam Syafie sendiri.

p/s : al-faqir hanya mengulangi posting dari blog pondok tampin, maklumat lanjut , rujuk di blog Pondok Tampin: http://pondoktampin.blogspot.com/search/label/Ushul%20Fiqh



Kamis, 11 Februari 2010

Gambar Rajah Kitab-Kitab Fiqh Mazhab As-Syafie

klik utk membesarkan


Assalamulaikum wrt.

Di atas adalah gambarajah silsilah kitab-kitab mazhab Imam Syafie rahimahullah yang dijadikan bahan rujukan untuk pengajian dan pengeluaran fatwa semenjak terasasnya mazhab Syafie hinggalah sekarang. ia diperkembagankan melalui jalur para ulama' yang mashyor yang mengikut mazhab imam as-Syafie rahimahullah. ini menunjukkkan keagungan mazhab imam syafi'e.

Semoga bersama-sama kita mengambil manfaat dan mengenali para ulama' dan kitabnya...serta isi kandungannya.. wallahu 'alam ..




Senin, 11 Januari 2010

Salasilah Berkembangnya kitab Qurrat Al-‘Ain.


Salasilah Berkembangnya kitab Qurrat Al-‘Ain.

Sebuah kebesaran bagi para ulama’ apabila penulisan kitab-kitabnya berlaku perkembangan. Kitab Qurrat al-‘Ain adalah merupakan kitab Fikih Mazhab as-Syafi’i yang berlaku pekembangan salasilahnya.

Kitab ini ditulis oleh al-’Allamah Zain al-Din ibn Abdul Aziz al-Malibari, ia merupakan seorang Ulama’ India Selatan abad ke-16. Dan kemudiannya beliau mensyarahkan tersebut yaitu Qurrat al-‘Ain , menjadi sebuah kitab yang diberi nama Fath Al-Mu’in. Walau bagaimanapun perkembangan kitab Qurrat al-‘Ain bertambah berkembang nilai ilmiahnya dan popular di Nusantara apabila seorang Ulama’ besar dari Nusantara (Indonesia) yaitu Syeikh Nawawi al-Banten (1316H) telah mensyarahkan kitab tersebut menjadi sebuah kitab yang diberi nama Nihayah al-Zain, kitab ini digunakan secara meluas dan rujukan bagi penuntut ilmu.

Di Makkah, dan sezaman Syeikh Nawawi al-Banten, tapi beliau berusia lebih muda dari syeikh Nawawi al-Banten, yang telah menulis hasyiyah secara meluas atas karya syarah al-Malibari yakni Fath al-Mu’in, menjadi karya yang lebih mashyor dan rujukan utama fikih Mazhab Syafi’i, yaitu kitab I’anah at-Tholibin. Kitab ini dikarang oleh seorang ulama’ bernama Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha Al-Dimyathi, (maklumat lanjut mengenai pengarang dan riawat hidupnya, klik di link ini ).

Selain kitab I’anah at-Tholibin, terdapat juga karya kitab yang lebih sederhana (2jilid) daripada mengluaskan ilmu dari karya Fath al-Muin, yaitu kitab Tasyih Al-Mustafidin yang dikarang oleh seorang Ulama’ bernama ‘Alwi Al-Saqqaf, yang hidup dan mengajar sekitar tahun 1300 H. (1883M).

Dengan ini, menunjukkan bahawa karya-karya kitab Fiqh yang mempunyai kesenambungan mahupun rangkaian jalur salasilah kitab-kitab yang merupakan salah satu perkembangan Fiqh dan pekembagan tersebut melalui hasil penulisan para ulama’. Maka tidak dinafikan banyak karya besar kitab Fiqh Syafi’iyyah yang popular dan Mashyur masih tetap utuh diajar dan dipelajari dari kalangan ahli madrasah, pondok ataupun pasentren di Asia Tenggara dan menjadi sebuah karya utama dalam pengambilan hukum. Moga jasa dan sumbagan para Ulama’ yang berjuang ini mendapat kurniaan dan anugerah dari Allah S.W.T di hari akhirat kelak. Amiin..

Wallahu ‘alam .

Template by : kendhin x-template.blogspot.com